Cagar Budaya Kota Sawahlunto

Cagar Budaya Kota Sawahlunto

Berdasarkan laporan Van Lier tahun 1917 menjelaskan bahwa Sebelum eksploitasi dan eksplorasi batubara oleh Belanda, masyarakat telah mulai menemukan dan memanfaatkan batubara sebagai bahan bakar memasak. Masyarakat mengambil batubara yang muncul ke permukaan yang dikenal dengan nama lidah arang (daagzoom). Mereka menjual batubara ke arah selatan Sawahlunto menggunakan perahu di aliran sungai Ombilin.

Setelah penelitian oleh para geolog Belanda tahun 1858-1868 dan melakukan penambangan sejak akhir 1890-an, perkembangan wilayah pedesaan yang bernama Sawahlunto menjadi sangat pesat dan tumbuh menjadi kota tambang yang lengkap dengan fasilitas pendukungnya.

Pasca berhentinya penambangan batubara oleh perusahaan PT. Bukit Asam pada akhir tahun 1990-an, elemen kota bersepakat menyusun langkah jauh kedepan yang dituangkan sebagai visi kota Sawahlunto dengan menerbitkan peraturan daerah nomor 2 tahun 2001 tentang visi kota Sawahlunto tahun 2020 menjadi kota wisata tambang yang berbudaya.

Salah satu langkah menuju visi tersebut adalah dengan pelestarian tinggalan masa kejayaan tambang Ombilin Sawahlunto dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukungnya yang masih bertahan hingga saat ini.

Proses pendataan, identifikasi dan penetapan dilakukan sejak awal tahun 2000, saat ini Walikota Sawahlunto telah menetapkan sebanyak 119 cagar budaya, tahun 2007 ditetapkan 68 cagar budaya, tahun 2014 ditetapkan 6 cagar budaya dan tahun 2017 ditetapkan 45 cagar budaya.

Sesuai dengan lingkup pelestarian cagar budaya pasal 4 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dimana pelestarian melingkupi pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Berikut daftar Cagar Budaya yang dimanfaatkan dan dikelola oleh Pemerintah Kota Sawahlunto :

Kompleks Dapur Umum (Museum Goedang Ransoem)

Kompleks Museum Goedang Ransoem merupakan Dapur Umum perusahaan tambang Batubara Ombilinyang didirikan pada tahun 1918. Sesuai fungsinya Dapur Umum merupakan tempat memasak makanan bagi pekerja tambang yang berjumlah ribuan termasuk bagi pekerja dan pasien Rumah Sakit Ombilin. Sebutan lain dari bangunan ini adalah Gudang Ransum atau Rumah Ransum.

Kompleks Rumah Ransum ini terdiri dari beberapa bangunan yang saling terkait, yaitu 1). Bangunan utama (dapur umum), gudang persediaan bahan mentah dan padi/beras, 2). Dua bangunan steam generator (tungku pembakaran), 3). Menara cerobong asap,  4). Pabrik dan gudang es batangan, 5). Klinik (hospital) mini, 6). Heuler (penggilingan padi), 7). Rumah kepala ransum, 8). Pos penjaga, 9). Rumah jagal hewan, 10). Hunian dr. kepala rumah potong hewan.

Setelah Kemerdekaan kompleks ini mengalami beberapa peralihan fungsi antara  lain; pada tahun 1945 – 1950 merupakan tempat memasak makanan bagi tentara (TKRI), pada tahun 1950 – 1960 menjadi kantor ketik penyelenggaraan administrasi perusahaan Tambang Batubara Ombilin, pada tahun 1960 – 1970 sekolah formal setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ombilin, pada tahun 1970 – 1980 sebagai hunian karyawan Tambang Batubara Ombilin, pada tahun 1980 – 2004 berfungsi sebagai tempat hunian Karyawan Tambang Batubara Ombilin dan masyarakat umum, pada tahun 2004 – 2005 kompleks ini direvitalisasi dan dijadikan Museum Goedang Ransoem yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla pada tanggal 17 Desember 2005.

Stasiun Kereta Api Sawahlunto (Museum Kereta Api)

Bangunan pendukung pertambangan batubara ini dibangun tahun 1912 oleh perusahaan jawatan kereta api Belanda yang menghubungkan jaringan transportasi rel kerata api dari Kota Tambang Sawahlunto dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Aktifitas menggunakan transportasi ini bertahan sampai dengan tahun 2003, dan pada tahun 2004 Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan revitalisasi dengan memberikan fungsi baru sebagai Museum Kereta Api Sawahlunto. Peresmian museum ini bersamaan dengan Museum Goedang Ransoem oleh Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla pada tanggal 17 Desember 2005.

Bangunan stasiun ini berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi 4 ruangan dan 1 ruangan lepas pada bagian tengah. Memiliki atap yang luas dan lebar untuk melindungi satu jalur rel tempat kedatangan dan keberangkatan kereta api. Bangunan ini direnovasi dan dilakukan penambahan ruang pada bagian kiri dan kanan. Penambahan ruang sebelah kiri sebagai tempat ruang kontrol jalur kerata api, sedangkan penambahan ruang sebelah kanan dijadikan kantor kepala stasiun. Renovasi lainnya berupa penambahan dinding pada bagian belakang dan penambahan pintu dan jendela pada bagian depan yang semula ruangan lepas. Bagian belakang bangunan terdapat 3 buah fentilasi udara dan 3 buah jendela, bagian depan bangunan terdapat 3 buah pintu 2 daun dan 2 pintu 1 daun, juga terdapat 4 buah jendela. Perubahan juga dilakukan pada bagian interior bangunan berupa penggantian warna cat, awalnya putih diganti dengan warna abu-abu.Perubahan juga dilakukan pada lantai bangunan, awalnya menggunakan ubin biasa diganti dengan keramik berwarna gelap.

Mond Mijn Soegar (Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero)

Lubang Tambang yang bernama Mond Mijn Soegar ini diperkirakan dibuka oleh perusahaan tambang Ombilin sekitar tahun 1898 dan ditutup sekitar tahun 1932. Lubang ini digali bukan untuk diproduksi, namun untuk melihat jumlah deposit batubara daerah soegar oleh verbeek. Keputusan Pemerintahan Belanda untuk tidak menjadikan lubang Soegar sebagai lubang tambang produksi karena kawasan ini akan dijadikan sebagai daerah pemukiman dan pembangunan fasilitas pendukung aktifitas pertambangan.

Setelah sekian lama ditutup, tahun 2007 Lubang Soegar ini direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Sawahlunto dan diresmikan sebagai objek wisata dengan nama Lubang Tambang  Mbah Soero pada tahun 2008.

Mulut lubang berupa bangunan bata pada bagian atas dan pondasi dari batu kali dengan coran beton setinggi 2 meter, lebar mulut terowongan 2 meter, ketebalan dinding 40 cm. Pada mulut terowongan terdapat tangga beton dua tingkat dan arah ke dalam berupa tangga hingga ke persimpangan sepanjang 29 meter dengan kemiringan antara 45° – 47° dan lebar 2,2 meter dan tinggi 2,75 meter. Dari persimpang diujung tangga belok arah kanan,panjang terowongan lebih kurang 150 meter sampai batas tembok penyekat (shell off).

Gedung Transport (Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga)

Kompleks Zeefhuis mulai dibangun pada tahun 1892 seiring selesainya jalur kereta api hingga Muara Kalaban 1 Oktober 1892. Lokasi ini dikosentrasikan sebagai kawasan pengolahan dan transportasi batubara. Di kompleks ini terdapat gedung transport yang dibangun oleh Perusahaan Tambang Ombilin pada tahun 1920-an untuk proses transportasi batubara dari lubang tambang dengan memuat ke gerbong kereta api sebelum dibawa ke Teluk Bayur.

Gedung transport ini beralih fungsi sebagai kantor Pemerintah Kota Sawahlunto, yakni Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga bersama dengan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebarakan Kota Sawahlunto.

Gedung Transpor ini memiliki kontruksi beton berlantai empat. Pada lantai dasar bangunan ini terdapat 4 buah jalur kereta api yang merupakan tempat pengisian batubara kedalam gerbong kereta api. Pada lantai 2 bangunan terdapat bak berbentuk kerucut sebagai tempat penampungan batubara yang sudah diolah. Lantai 3 bangunan merupakan tempat pengolahan batubara dan lantai 4 bangunan sebagai jalur lori dan kedudukan mesin bantingan.

Societiet (Gedung Pusat Kebudayaan)

Gedung ini dibangun Tahun 1910 dengan nama ‘Societeit Glück Auf’, yang merupakan gedung pertemuan atau tempat bersosialisasi,berkumpul para pejabat tambang Ombilin, dan pejabat pemerintah dari kalangan Eropa. Disini mereka berhibur dengan minum-minum, berdansa, bernyanyi dan bermain bowling. Sebutan lain bangunan ini adalah ‘Rumah Bola”.

Pada masa kemerdekaan dijadikan Gedung Pertemuan Masyarakat (GPM) dan beralih fungsi menjadi Bank Dagang Negara (BDN) atau Bank Mandiri. Pada tanggal 1 Desember 2006 gedung ini diresmikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto.

Dari dokumentasi foto tahun 1930-an memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan dari bangunan terutama pada struktur atap dan bentuk ventilasi dibagian depan bangunan. Bagian interior juga mengalami perubahan terutama pada lantai yang sudah diganti dengan keramik dan plafon dari triplek dan papan. Perubahan lain juga pada teras bangunan yang awalnya mempunyai enam tiang menjadi lima tiang. Dalam rangka memperkuat karakter bangunan ini tahun 2018 Pemerintah Kota Sawahlunto kembali membuat replika tulisan‘Societeit Glück Auf’ beserta lambang palu beling pada bagian fasade bangunan.

Rumah Asisten Residen (Rumah Dinas Walikota)

Bangunan ini merupakan rumah kediaman Asisten Residen yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1920. Sejak tahun 1965 dijadikan rumah dinas Walikota Sawahlunto sampai sekarang.

Ciri khas bangunan kolonial terlihat dari bentuk atap, dinding bangunan yang kuat dan kokoh dan jendela yang lebar dan banyak. Bangunan ini terdiri dari satu banguan induk dan dua bangunan belakang. Bangunan induk dan bangunan belakang dihubungkan oleh koridor berbentuk leter T.

Woning 16 (Mess Arga IIA)

Bangunan ini dibangun pada tahun 1904 dengan nama W16 (Sumber. Buku Bangunan/Civil Work, PTBA-UPO dan Peta Sectie Sawah-Loento Blaad 26 Laag C Tahun 1914/1915). Pernah digunakan sebagai Rumah Dinas Kapolsek, dan pada tahun 2009 dilakukan revitalisasi untuk dijadikan sebagai Mess Pemerintah Kota Sawahlunto dengan nama Mess Arga II A.

Bangunan W-16 memiliki arsitektur dan ukuran yang sama dengan bangunan W-15. bangunan ini dibagi menjadi 2, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan bangunan kedua sebagai bangunan pembantu.

Dokumentasi lama menunjukkan, bangunan induk memiliki enam ruangan, tiga kamar, teras, ruang tamu dan ruang makan. Atap berbentuk pelana, bagian atasnya terdapat ventilasi udara. Ruangan teras merupakan ruang terbuka dan memiliki pagar kayu.

 Woning 15 (Mess Arga IIB)

Bangunan ini dibangun tahun 1904 dengan nama W15 (Sumber. Buku Bangunan/Civil Work, PTBA-UPO dan Peta Sectie Sawah-Loento Blaad 26 Laag C Tahun 1914/1915. Pernah dijadikan sebagai hunian Karyawan TBO dan juga pernah sebagai Rumah Dinas Polisi. Setelah dilakukan revitalisasi menjadi Mess Pemerintah Kota Sawahlunto dengan nama Mess Arga II B.

Sebagai rumah  tinggal pejabat Belanda pada umumnya di Sawahlunto, bangunan ini dibagi menjadi 2, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan bangunan kedua sebagai bangunan pembantu. Pada bangunan induk terdapat sedikit perubahan fungsi, awalnya sebagai ruang makan menjadi kamar dengan melakukan penambahan sekat ruangan dan pintu. Sedangkan bangunan pembantu yang memiliki panjang 16,9 Meter dan lebar 2,35 Meter dibagi menjadi tujuh ruangan. Antara bangunan induk dan bangunan pembantu dihubungkan oleh sebuah koridor.

Landraad Huis 4 (Mess Arga IIIA)

Dibangun pada tahun 1916 yang diperuntukkan bagi rumah pejabat kejaksaan Belanda. Pernah beberapa kali mengalami perubahan fungsi. Setelah direvitalisasi tahun 2009 bangunan ini dijadikan pusat kebugaran dan tahun 2010 difungsikan sebagai Mess Pemerintah Kota Sawahlunto.

Ciri arsitektur kolonial pada bangunan ini masih dapat dilihat, yakni dari bentuk atap bangunan, dinding yang kuat dan kokoh, bentuk jendela dan pintu yang lebar dan tinggi serta ventilasi yang banyak. Bangunan ini terdiri dari dua bagian yaitu; bangunan utama dan bangunan pembantu.Bangunan utama terdiri dari teras, kamar tidur, ruang makan dan ruang keluarga. Pada teras terdapat satu pintu dan empat jendela yang tidak memiliki daun.Dari pintu masuk terdapat lorong menuju ruang keluarga dan ruang makan.sedangkan bangunan bagian belakang terdiri dari kamar pembantu, dapur, gudang dan kamar mandi. Lantai rumah masih asli yaitu lantai ubin yang bagian pinggirnya dihiasi dengan hiasan geometris. Bangunan ini direvitalisasi pada tahun 2018 dengan mempertahankan bentuk aslinya.

Landraad Huis 5 (Mess Arga IIIB)

Dibangun pada tahun 1916 yang diperuntukkan bagi rumah pejabat kejaksaan Belanda. Pernah beberapa kali mengalami perubahan fungsi. Setelah direvitalisasi tahun 2009 bangunan ini dijadikan pusat kebugaran dan tahun 2010 difungsikan sebagai Mess Pemerintah Kota Sawahlunto.

Ciri arsitektur kolonial pada bangunan ini masih dapat dilihat, yakni dari bentuk atap bangunan, dinding yang kuat dan kokoh, bentuk jendela dan pintu yang lebar dan tinggi serta ventilasi yang banyak. Bangunan ini terdiri dari dua bagian yaitu; bangunan utama dan bangunan pembantu.Bangunan utama terdiri dari teras, kamar tidur, ruang makan dan ruang keluarga. Pada teras terdapat satu pintu dan empat jendela yang tidak memiliki daun.Dari pintu masuk terdapat lorong menuju ruang keluarga dan ruang makan.sedangkan bangunan bagian belakang terdiri dari kamar pembantu, dapur, gudang dan kamar mandi. Lantai rumah masih asli yaitu lantai ubin yang bagian pinggirnya dihiasi dengan hiasan geometris. Bangunan ini direvitalisasi pada tahun 2018 dengan mempertahankan bentuk aslinya.

Woning 13/ Rumah Jawatan Kereta Api (PAUD Buah Hati)

Pada tahun 1917, bangunan ini sudah ada dan digunakan sebagai rumah dinas bagi pejabat kereta api. (Sumber. Peta Sectie Sawah-Loento Hoofd-Plattegrond Blaad 27 Tahun 1917/1918. Pada tahun 2012, bangunan ini dijadikan sebagai tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD ) Buah Hati hingga saat ini

Sebagai rumah  tinggal pejabat Belanda pada umumnya di Sawahlunto, bangunan ini dibagi menjadi 2, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan bangunan kedua sebagai bangunan pembantu. Ciri arsitektur kolonial pada bangunan ini masih dapat dilihat, yakni dari bentuk atap bangunan, dinding yang kuat dan kokoh, bentuk jendela dan pintu yang lebar dan tinggi serta.Bangunan ini merupakan rumah panggung yang memiliki kolong pada bagian lantai bangunan. Lantai bangunan terbuat dari papan kayu. Bangunan induk ini sudah mengalami renovasi dengan penambahan ruangan pada samping kiri bangunan.Pada bagian belakang antara bangunan induk dan bangunan pembantu dibuat kamar mandi dan toilet. Sedangkan bangunan pembantu belum banyak mengalami perubahan dan masih mempertahankan bentuk asli.

Kerkhoff (Kompleks Makam Belanda)

Makam ini telah digunakan sejak jaman pemerintahan Belanda ada di Kota Sawahlunto dengan nama Europ Begraaf Plaats. Makam ini diperuntukan bagi masyarakat Eropa yang meninggal di Sawahlunto.

Kompleks Makam Belanda terletak di areal pebukitan di kawasan pemukiman penduduk di daerah Lubang  Panjang dengan luas sekitar 7000 m2. Pada salah satu sisi, terdapat tangga naik yang keadaannya sudah rusak. Kondisi kompleks makam yang berada di daerah pebukitan mengakibatkan beberapa makam yang berada di tepi dinding sebagian runtuh dan rusak. Sebagian nisan kehilangan marmer yang berisi nama dan keterangan orang yang dimakamkan. Hampir keseluruhan makam dilengkapi dengan jirat dan nisan yang terbuat dari beton bertulang serta sebagian diberi cungkup. Berdasarkan kajian dan studi perencanaan Pemerintah Kota Sawahlunto diketahui jumlah makam saat ini mencapai 94 buah makam dan salah satunya adalah makam orang Jepang terlihat dari tulisan abjad Hiragana yang tertera di makam tersebut.

Kompleks makam pada tahun 2009 dilakukan pengamanan pondasi dinding dan pagar batas makam dengan jalan lingkungan oleh BP3 Batusangkar (sekarang Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat), dan tahun 2014 Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan penataan lingkungan dan pembuatan pagar keliling kompleks makam.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat melakukan studi teknis pemugaran pada tahun 2017, dan dilanjutkan pemugaran pada 1 kluster sebanyak 12 makam pada tahun 2018. Adapun tahun 2019 Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat kembali melakukan pemugaran sebanyak 48 makam dan rencana tahun berikutnya akan diselesaikan sebanyak 34 pemugaran makam lagi.

Woning 24 (Museum Lukisan dan Etno Kayu)

Bangunan ini pada zaman belanda dikenal juga dengan nama Woningen 36 dan berfungsi sebagai Gouvernement Woningen (Sumber Peta Sectie Sawah-Loento Blaad 26 Laag C Tahun 1914/1915). Direvitalisasi pada tahun 2017 dengan APBN dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan beralih fungsi menjadi Museum Lukisan dan etno Kayu.

Bangunan ini terdiri dari dua lantai dan memiliki 3 kamar tidur. 1 (satu) kamar terdapat dilantai bawah, sedangkan 2 (dua) kamar lagi terdapat dilantai atas. Sedangkan bangunan bagian belakang berbentuk leter U terbalik, terdiri dari ruang dapur, kamar pembantu, gudang dan kamar mandi. Atap bangunan terbuat dari atap seng. Sedangkan lantainya terbuat dari ubin biasa.

Woning 30 (Museum Tari)

Bangunan ini dibangun pada tahun 1914  sebagai Gouvernement Woningen (Sumber. Buku Bangunan/Civil Work, PT. BA-UPO). Direvitalisasi pada tahun 2017 dengan APBN dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan beralih fungsi menjadi Museum Tari.

Sebagai rumah  tinggal pejabat Belanda pada umumnya di Sawahlunto, bangunan ini dibagi menjadi 2, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan bangunan kedua sebagai bangunan pembantu. Bangunan induk W-30 ini memiliki tipikal yang sama dengan bangunan induk W-27. Bangunan induk memiliki 7 ruangan yang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruangan makan dan kamar.Sedangakan banguan pembantu terdiri dari 4 ruangan.Bangunan ini belum banyak mengalami perubahan. Perbaikan dilakukan hanya pada bagian-bagian yang telah mengalami kerusakan seperti pintu dan jendela namun masih manggunakan bahan yang sama dengan aslinya. Dari fasad bangunan juga mengalami sedikit perubahan dengan penambahan bangunan baru pada sisi kanan bangunan induk sebagai garase mobil. Sedangkan pada bangunan pembantu tidak ada perubahan yang berarti, renovasi hanya berupa pergantian komponen bangunan yang sudah rusak namun masih menggunakan bahan yang sama dengan aslinya.

Woning 29 (Museum Alat Musik)

Bangunan ini dibangun pada tahun 1914 Gouvernement Woningen (Sumber. Buku Bangunan/Civil Work, PT. BA-UPO). Direvitalisasi pada tahun 2017 dengan APBN dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan beralih fungsi menjadi Museum Alat Musik.

Bangunan W-29 memiliki bentuk dan ukuran yang sama dengan W-28. Bangunan ini terbagi menjadi dua bangunan, bangunan induk dan bangunan belakang. Bangunan induk memiliki ukuran panjang 15 Meter dan lebar 9 Meter. Bangunan induk ini terdapat tujuh ruangan dan satu kamar mandi. Sedangkan bangunan belakang merupakan satu bangunan dengan bangunan belakang W-28 yang hanya dipisahkan oleh dinding beton.Bangunan belakang W-29 ini dibagi menjadi tiga ruangan.

Woning 129 (Rumah Dinas Wakil Walikota)

Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1920-an dan digunakan sebagai wisma untuk tamu pejabat belanda. Saat ini bangunan woning 129 berfungsi sebagai Rumah Dinas Wakil Walikota.

Bangunan colonial ini memiliki jendela, pintu, bentuk atap dan bangunan yang kuat dan kokoh. Arsitektur bangunan Woning 129 ini sangat berbeda dengan bangunan kolonial lainnya di Sawahlunto. Bangunan ini berlantai dua dan memiliki teras pada masing-masing lantai yang ditempatkan dibagian depan bangunan. Bangunan ini telah mengalami renovasi namun struktur asli bangunan masih dipertahankan. Perubahan dari lansekap karena adanya penambahan bangunan baru disamping kiri dan kanan. Pada bagian interior bangunan juga terdapat perubahan dengan pergantian lantai , semula memakai ubin biasa diganti dengan keramik. Pintu dan jendela bangunan juga sudah dilakukan pergantian namum tetap menggunakan bahan yang sama dengan aslinya.

(Sumber: Buletin Arkeologi Amoghapasa Edisi 2019, Penulis: Rahmat Gino Sea Games)

 

1 Comment
  • Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman
    Posted at 11:14h, 30 Maret Balas

    Semoga makin banyak tulisan tentang tinggalan bersejarah Kota Sawahlunto yang telah ditetapkan sebagai salah satu area warisan dunia Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto…

Post A Comment