Gallery

Gedung Transport

Mulai dibangun pada tahun 1892. Zeefhuis ini dibangun untuk kebutuhan pengolahan batubara dan fasilitas bengkel. Lokasi ini dikosentrasikan sebagai kawasan pabrik pengolahan, transportasi, dan sebagai daerah perkantoran dan perumahan perusahaan tambang batubara. Pembukaan dan penataan lahan kawasan Saringan sudah berlangsung sejak 1892 seiring selesainya jalur kereta api hingga Muara Kalaban 1 Oktober 1892. Gedung transpor ini telah mengalami renovasi setelah beralih fungsi sebagai kantor. Lantai 3 dan 4 berfungsi sebagai kantor Dinas Pariwisata . Lantai 1 dan 2 berfungsi sebagai kantor Pemadam Kebakaran.

Started construction in 1892. Zeefhuis was built for the needs of coal processing and workshop facilities. This location is concentrated as an area for processing factories, transportation, and as an office and residential area for coal mining companies. The opening and structuring of the land in the Saringan area has been going on since 1892 following the completion of the railway line to Muara Kalaban on October 1, 1892. This transport building has been undergoing renovations after changing its function as an office. The 3rd and 4th floors serve as the offices of the Tourism Office. Floors 1 and 2 serve as Fire Department offices.

Hotel Ombilin

Bangunan ini dibangun pada tahun 1917 dengan nama Woning 17 , merupakan tempat menginap para pejabat pemerintah, insyinyur tambang yang datang ke Sawahlunto. Arsitekturnya mencirikan gaya bangunan Eropa. Hal ini terlihat dari bentuk jendela yang besar dan banyak serta dinding yang kokoh. Beberapa peralihan fungsi yang pernah dialami bangunan ini diantaranya:
1. Sebagai Asrama Tentara Belanda Tahun 1945 – 1949
2.Tahun 1970-an digunakan sebagai Kantor Polisi Militer
3.Sekarang digunakan sebagai Inna Ombilin Heritage Hotel

This building was built in 1917 under the name Woning 17 , is a place to stay for government officials, mining engineers who came to Sawahlunto. The architecture characterizes the European building style. This can be seen from the large and many windows and solid walls. Some of the functional shifts that this building has experienced include:
1. As a Dutch Army Dormitory in 1945 – 1949
2.In the 1970s it was used as a Military Police Station
3.Now used as Inna Ombilin Heritage Hotel

Pegadaian

Dibangun oleh Sian Seng Wong A Lan tahun 1917 dengan nama Roemah Komidi. Dimasanya di gedung ini menggelar hiburan dengan pertunjukan komidi. Beberapa perlaihan fungsi yang pernah dialami bangunan ini diantaranya :
1. Dijadikan sebagai rumah gadai
2. Dijadikan sebagai Museum Koleksi Pribadi pada tahun 2004.
3. Pada tahun 2005 bangunan ini menjadi Kantor Cabang Pembantu Bank BRI dan mengalami kebakaran di tahun 2008.
4.Setelah dilakukan rehabilitasi tahun 2011 gedung ini kembali menjadi Kantor Pegadaian sampai sekarang.

Built by Sian Seng Wong A Lan in 1917 under the name Roemah Komidi. In his time in this building held entertainment with comedy shows. Some of the functions that this building has experienced include:
1. Used as a pawnshop
2. Established as a Private Collection Museum in 2004.
3. In 2005 this building became a Sub-Branch Office of Bank BRI and experienced a fire in 2008.
4. After the rehabilitation was carried out in 2011 this building was returned to the Pawnshop Office until now.

Woning 14 (Sweet Room Hotel Ombilin)

Bangunan ini dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1904 dengan nama Woning 14. Bangunan ini juga memiliki bangunan induk dan bangunan pembantu seperti bangunan lain yang ditempati oleh pejabat Belanda di Sawahlunto. Arsitektur yang khas, menjadikan bangunan ini terkesan cukup mewah dibanding bangunan sekitarnya. Rumah hunian pejabat tambang Batu Bara Ombilin masa kolonial Belanda ini pernah menjadi tempat tinggal dokter RSUD Sawahlunto dan kemudian menjadi bagian dari Heritage Hotel Ombilin

This building was built by the Dutch Colonial in 1904 under the name Woning 14. This building also has a main building and auxiliary buildings like other buildings occupied by Dutch officials in Sawahlunto. The distinctive architecture makes this building seem quite luxurious compared to the surrounding buildings. The residence of the Ombilin Coal Mining official during the Dutch colonial period was once the residence of a doctor at the Sawahlunto Hospital and later became part of the Heritage Hotel Ombilin.

Museum Goedang Ransum

Kompleks Museum Goedang Ransoem merupakan Dapur Umum perusahaan tambang Batu Bara Ombilin yang didirikan pada tahun 1918, merupakan tempat memasak makanan bagi pekerja tambang yang berjumlah ribuan termasuk bagi pekerja dan pasien Rumah Sakit Ombilin. Setelah Kemedekaan bangunan ini mengalami beberapa peralihan fungsi antara lain;
1. 1945-1950 sebagai tempat memasak makanan bagi Tentara (TKRI),
2. 1950-1960 sebagai kantor ketik penyelenggaraan administrasi perusahaan Tambang Batu Bara Ombilin,
3. 1960-1970 sekolah formal setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)Ombilin,
4. 1970-1980 sebagai hunian karyawan Tambang Batu Bara Ombilin, 5. 1980-2004 berfungsi sebagai tempat hunian Karyawan Tambang Batu Bara Ombilin dan masyarakat umum,
6. 2004-2005 bangunan ini direvitalisasi dan dikonservasi untuk dijadikan Museum Goedang Ransoem dan diresmikan Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla pada tanggal 17 Desember 2005.

Parai City Garden Hotel

Gedung ini berdiri pada tahun 1915, Gedung ini bernama W1 dan digunakan sebagai Rumah Dinas Dokter Rumah Sakit Perusahaan Tambang Batu Bara  Ombilin. Pada masa kemerdekaan RI, di dalam kawasan bangunan W-1 dibangun pula rumah tinggal pegawai tambang Batu BaraOmbilin yang masih bujang. Sejak 2011 di bangun Hotel dalam kawasan ini dan dikelolah oleh hotel Parai. Arsitektur kolonial masih tampak kental pada bangunan W-1 ini. Bagian jendela, pintu bentuk atap, tiang dan struktur lainnya yang tampak kokoh.

This building was established in 1915. This building is named W1 and is used as the Doctor’s Office House for the Ombilin Coal Mining Company Hospital. During the independence period of the Republic of Indonesia, in the W-1 building area, a residence for the Ombilin Coal Mining employee who was still single was also built. Since 2011 a hotel has been built in this area and managed by the Parai hotel. Colonial architecture still looks thick in this W-1 building. The windows, doors, roofs, pillars and other structures look solid.

Gereja Katolik Santa Barbara

Gereja ini dibangun pada tahun 1919 dan selesai pada tahun 1920 masa Pemerintahan Kolonial Belanda sebagai tempat beribadah bagi kaum kolonial maupun penduduk pendatang yang beragama Katolik. Pada zaman Jepang dari tahun 1942-1945 Gereja ini diambil oleh pasukan Jepang sebagai asrama.Setelah Kemerdekaan sampai sekarang gereja ini digunakan sebagai gereja katholik. Bangunan gereja ini berarsitektur eropa.Dapat dilihat dari bentuk kemuncak atau menara kecil pada bagian atap sebagai tempat gantungan lonceng gereja dan dormer sebagai ventilasi udara.

This church was built in 1919 and was completed in 1920 during the Dutch Colonial Government as a place of worship for the colonials and the immigrant population who are Catholic. During the Japanese era from 1942-1945 this church was taken by Japanese troops as a hostel. After independence until now this church is used as a catholic church. This church building has a european architecture. It can be seen from the shape of the peak or small tower on the roof as a place to hang church bells and dormers as air vents.

Gedung Sekolah Santa Lucia

Sekolah ini dibuka pada tahun 1921 sebagai Catholic Elementary School. Kemudian pada tahun 1926 menjadi Europeasche Lagere School (ELS) bagi anak-anak Belanda dan Eropa lainnya di Sawahlunto. Sejak tahun 1920-an selain sebagai sekolah Santa Lucia hingga sekarang telah mengalami berbagai peralihan fungsi seperti; pernah sebagai asrama tambang, Sekolah Islam dan Kantor Urusan Agama.Pada perkembangan selanjutnya bangunan ini beralih penggunaanya antara lain untuk SMP Ombilin pada tahun 1964, tahun 1983 untuk TK Kuntum Mekar dan sekarang untuk SD Katholik.

The school opened in 1921 as a Catholic Elementary School. Then in 1926 it became the Europeasche Lagere School (ELS) for Dutch and other European children in Sawahlunto. Since the 1920s apart from being a Santa Lucia school until now, it has undergone various functions such as; once used as a mining dormitory, Islamic school and office of religious affairs. In subsequent developments this building changed its use, among others, to Ombilin Middle School in 1964, in 1983 to Kuntum Mekar Kindergarten and now to Catholic Elementary School.

Rumah Kepala Pengadilan

Pada tahun 1917, bangunan ini sudah ada.Berkemungkinan bangunan ini pada zaman Belanda merupakan rumah dinas dari Landraad, karena letaknya yang berdekatan dengan landraad. Bagunan ini sekarang milik Pengadilan Kota Sawahlunto dan ditempati Kepala Pengadilan. Arsitektur kolonial pada bangunan ini dapat dilihat pada bagian jendela, pintu, bentuk atap dan bangunan yang kuat dan kokoh. Bangunan ini terbagi menjadi 4 bagian, 1 bangunan rumah induk dan 3 bangunan pembantu yang terpisah dan mengelilingi bangunan rumah induk.

In 1917, this building already existed. It is possible that this building in the Dutch era was the official residence of the Landraad, because it is located adjacent to the Landraad. This building now belongs to the Sawahlunto City Court and is occupied by the Head of the Court. Colonial architecture in this building can be seen in the windows, doors, roof shapes and strong and sturdy buildings. This building is divided into 4 parts, 1 main house building and 3 subsidiary buildings which are separated and surround the main house building.

Klik Here To See Location

Rumah Kepala Kejaksaan Negeri Sawahlunto

Pada tahun 1917, bangunan ini sudah ada .Rumah ini berfungsi sebagai rumah dinaspejabat Pemerintah Hindia Belanda di Sawahlunto setingkat camat atau controleur. Hingga sekarang rumah hunian controleur ini masih digunakan sebagai Rumah Dinas Kejaksaan Negeri Sawahlunto. Ciri khas bangunan kolonial pada bangunan ini masih dipertahankan , hal ini dapat dilihat dari bentuk atap yang bersusun pada bagian atasnya berfungsi sebagai ventilasi udara,dinding yang kuat dan kokoh, jendela yang tinggi, serta ventilasi yang banyak.

In 1917, this building already existed. This house served as the official residence of the Dutch East Indies government in Sawahlunto at the sub-district level or controleur. Until now, the controleur’s residence is still used as the Sawahlunto District Attorney’s Office. The characteristic of colonial buildings in this building is still maintained, this can be seen from the shape of the roof which is stacked at the top which functions as air ventilation, strong and sturdy walls, high windows, and lots of ventilation.

Rumah Dinas Panitera Pengadilan

Pada tahun 1917, bangunan ini sudah ada. Berkemungkinan bangunan ini pada zaman Belanda merupakan rumah dinas dari Landraad, karena letaknya yang berdekatan dengan kantor landraad. Pada tahun 1939 rumah ini ditemapti kepala polisi. Letak yang strategis menghadap langsung ke pusat kota menjadi salah satu alasan untuk menjadikannya rumah dinas kepala kepolisian, agar dapat memantau situasi dan kondisi kota tambang Batu Bara yang sibuk selama 24 jam. Pada masa sekarang Rumah ini ditempati oleh Panitera Pengadilan Kota Sawahlunto.

In 1917, this building already existed. It is possible that this building in the Dutch era was the official residence of the Landraad, because it is located close to the Landraad office. In 1939 this house was occupied by the chief of police. The strategic location facing directly to the city center is one of the reasons for making it the official residence of the police chief, in order to monitor the situation and condition of the busy Coal mining town 24 hours a day. At present this house is occupied by the Registrar of the Sawahlunto City Court.

Mess Pemda Mudik Air II

Bangunan ini merupakan bagian dari rumah dinas Pegawai Kejaksaan. Pada saat sekarang bangunan yang kental dengan arsitektur kolonial ini menjadi Mess Pemerintah Kota Sawahlunto. Ciri arsitektur kolonial pada bangunan ini masih dapat dilihat, yakni dari bentuk atap bangunan, dinding yang kuat dan kokoh, bentuk jendela dan pintu yang lebar dan tinggi serta ventilasi yang banyak. Bangunan ini sudah dilakukan revitalisasi dengan mempertahankan bentuk aslinya.

This building is part of the official residence of the Prosecutor’s Office. At the present time, the building, which is thick with colonial architecture, has become the Mess of the City Government of Sawahlunto. Colonial architectural characteristics in this building can still be seen, namely from the shape of the roof of the building, strong and sturdy walls, wide and high windows and doors and lots of ventilation. This building has been revitalized by maintaining its original form.

Woning 301

Bangunan ini dibangun Pada tahun 1922 dan merupakan mess bujangan bagi karyawan PT. TBO yang masih bujangan di zaman kolonial. Sampai saat ini , bangunan ini masih digunakan sebagai rumah hunian. Seperti bangunan kolonial pada umumnya di Sawahlunto, bangunan W-301 ini juga terbagi menjadi dua yaitu bangunan induk dan bangunan pembantu. . Hanya saja bangunan ini terlihat seperti tidak terawat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya komponen rumah yang sudah rusak.

This building was built in 1922 and is a bachelor’s mess for employees of PT. TBO who was still a bachelor in colonial times. Until now, this building is still used as a residential house. Like colonial buildings in general in Sawahlunto, the W-301 building is also divided into two, namely the main building and the auxiliary building. . It’s just that this building looks like it’s not maintained. This can be seen from the many components of the house that have been damaged.

Woning 302

Bangunan ini dibangun Pada tahun 1925 dan merupakan mess bujangan bagi karyawan PT. TBO yang masih bujangan di zaman kolonial.Sampai saat ini , bangunan ini masih digunakan sebagai rumah hunian. Arsitek kolonial pada bagunan ini masih sangat menonjol hal ini dapat dilihat pada bagian atap berbentuk pelana, jendela serta pintu lebar, bentuk ventilasi dan bangunan yang kokoh. Bangunan ini hampir sama dengan bangunan kolonial lainnya yang ada di Sawahlunto dimana bangunan induk terpisah dengan bangunan dapur dan kamar mandi.

This building was built in 1925 and is a bachelor’s mess for employees of PT. TBO who was still a bachelor in the colonial era. Until now, this building is still used as a residential house. Colonial architects on this building are still very prominent, this can be seen in the saddle-shaped roof, wide windows and doors, ventilation forms and a solid building. This building is almost the same as other colonial buildings in Sawahlunto where the main building is separated from the kitchen and bathroom buildings.

Woning 24 (Museum Lukis & Etno)

Bangunan ini pada zaman belanda dikenal juga dengan nama Woningen 36 dan berfungsi sebagai Gouvernement Woningen. rumah ini pernah menjadi Rumah Dinas PT.BA-UPO W.43 (Mess Bujangan) dan sekarang digunakan sebagai museum Lukis dan Etno Kayu.Bangunan ini terdiri dari dua lantai dan memiliki 3 kamar tidur. 1 kamar terdapat dilantai bawah, sedangkan 2 kamar lagi dilantai atas. Bangunan bagian belakang berbentuk leter U terbalik, terdiri dari ruang dapur, kamar pembantu, gudang dan kamar mandi

This building in the Dutch era was also known as Woningen 36 and served as the Gouvernement of Woningen. this house was once the official house of PT. BA-UPO W.43 (Mess Bujangan) and is now used as a Painting and Ethno Wood museum. This building consists of two floors and has 3 bedrooms. 1 bedroom is on the ground floor, while the other 2 rooms are upstairs. The back of the building is in the shape of an inverted U letter, consisting of a kitchen room, maid’s room, warehouse and bathroom

Polsekta Sawahlunto

Pada masa Pemerintahan Belanda, Bangunan ini dikenal dengan nama Provoost en Gevangenis. Bangunan ini dibangun pada tahun 1920 sebagai Kantor Polisi dan Rumah Tahanan untuk menampung para pekerja tambang Batu Bara yang di vonis dengan hukuman kurung dan sekarang berfungsi debagai Kapolsek Kota Sawahlunto. Bangunan ini telah mengalami banyak perubahan. Awalnya bangunan ini berupa komplek kantor pengamanan (provoost) dan penjara dengan 6 bangunan. Pada tahun 1987 komplek bangunan ini dilakukan pemugaran secara besar-besaran dengan hanya menyisakan 2 bangunan pada bagian tengah.

During the Dutch government, this building was known as Provoost en Gevangenis. This building was built in 1920 as a Police Station and Detention Center to accommodate Coal mining workers who were sentenced to imprisonment and now serves as Kapolsek Sawahlunto City. This building has undergone many changes. Initially this building was a security office complex (provoost) and a prison with 6 buildings. In 1987 this building complex was renovated on a large scale, leaving only 2 buildings in the middle.

Woning-51 (Museum Tambang)

Pada masa Pemerintahan Belanda, bangunan ini dikenal dengan nama W51. Gedung ini pernah dipakai sebagai tempat tinggal pejabat perusahaan tambang Batu Bara Ombilin, Kantor Periska pada tahun 2005-2008, Serikat Pegawai Bukit Asam pada tahun 2008-2010, dan dari tahun 2010 sampai saat ini sebagai Museum Tambang Batubara. Bangunan ini sangat kental dengan arsitektur kolonial sebagai rumah tinggal bagi pejabat Belanda yang memiliki ciri khas bangunan induk terpisah dengan bangunan pembantu. Bangunan induk dan bangunan pembantu sudah mengalami beberapakali renavasi sehingga telah merubah bentuk fasad bangunan.

During the Dutch government, this building was known as W51. This building was once used as a residence for officials from the Ombilin Coal mining company, the Periska Office in 2005-2008, the Bukit Asam Employees Union in 2008-2010, and from 2010 until now as the Coal Mining Museum. This building is very thick with colonial architecture as a residence for Dutch officials. The main building and supporting buildings have undergone several renovations so that they have changed the shape of the building’s facade.

Woning-16 (Mess Arga IIA)

Bangunan ini dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1904 dengan nama W16 .Bangunan ini juga pernah digunakan sebagai Rumah Dinas Kapolsek. Setelah dilakukan revitalisasi dan konservasi terhadap bangunan ini sejak tahun 2009 lalu. Bekas Rumah Dinas Kapolsek ini menjadi Mess Pemerintah Kota Sawahlunto dengan nama Mess Arga II A. Pada bangunan induk terdapat sedikit perubahan fungsi, awalnya sebagai ruang makan menjadi kamar dengan melakukan penambahan sekat ruangan dan pintu.

This building was built by the Dutch Colonial in 1904 under the name W16. This building was also used as the official house of the police chief. After the revitalization and conservation of this building since 2009. The former official house of the police chief has become the Mess of the Sawahlunto City Government with the name Mess Arga II A. In the main building there is a slight change in function, initially as a dining room into a room by adding room dividers and doors.

Woning-15 (Mess Arga IIB)

Bangunan ini dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1904 dengan nama W15. Bangunan ini pernah dijadikan sebagai hunian Karyawan PT- TBO ini pernah jugasebagai Rumah Dinas Polisi. Kemudian setelah dilakukan revitalisasi dan konservasi bersamaan dengan Rumah Dinas Kapolsek. Bangunan ini menjadi Mess Pemerintah Kota Sawahlunto dengan nama Mess Arga II B. Sebagai rumah tinggal pejabat Belanda pada umumnya di Sawahlunto, bangunan ini dibagi menjadi 2, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan bangunan keduasebagai bangunan pembantu.

This building was built by the Dutch Colonial in 1904 under the name W15. This building was once used as a residence for PT-TBO employees. Then after the revitalization and conservation were carried out together with the Police Headquarters Office. This building became the Sawahlunto City Government Mess with the name Mess Arga II B. As a residence for Dutch officials in general in Sawahlunto, this building was divided into 2, the first building as the main building and the second building as a subsidiary building.

Rumah Potong Hewan

Rumah jagal atau tempat pemotongan hewan ini dibangun dibangun tahun 1918, bersamaan dengan Dapur Umum. Rumah jagal ini pada prinsipnya adalah bagian dari komplek Dapur Umum perusahaan tambang Batu Bara Ombilin. Kebutuhan memasak daging disuplai dari disini untuk dimasak di Dapur Umum dalam memenuhi kebutuhan protein bagi pekerja dan rumah sakit tambang Ombilin.Pada saat sekarang rumah jagal ini berfungsi sama seperti dulunya untuk tempat pemotongan hewan terutama oleh para pedagang daging ternak di Sawahlunto. Komplek bangunan ini terdiri dari tiga bangunan yaitu rumah dokter hewan, rumah potong dan kandang ternak.

This  slaughterhouse was built in 1918, along with the Public Kitchen. This slaughterhouse is, in principle, part of the Ombilin Coal Mining Company’s Public Kitchen complex. Meat cooking needs are supplied from here to be cooked in the Public Kitchen to meet the protein needs for workers and the Ombilin mining hospital. At present this slaughterhouse functions the same as it used to be for slaughterhouses, especially by meat traders in Sawahlunto. This building complex consists of three buildings, namely a veterinarian’s house, a slaughterhouse and a cattle barn.

Woning 17/57

Bangunan ini dibangun pada tahun 1923 dengan nama W.57
Pada awalnya, bangunan tingkat pertama digunakan sebagai hunian, dan tingkat bawah digunakan sebagai koperasi. Dengan nama‘Ons Belang’, Gedung ini menjadi tempat penyelenggaraan koperasi yang memenuhi kebutuhan orang-orang Eropa dan Indo Eropa di Sawahlunto. Koperasi ini juga menjadi penyeimbang harga-harga kebutuhan yang sewaktu-waktu melonjak naik di pasar.Pernah ditempati sebagai asrama dan kantor Badan Ekonomi Kota Arang . Sekarang jadi pusat koperasi PT.BA-UPO

This building was built in 1923 under the name W.57
Initially, the first level building was used as a residence, and the lower level was used as a cooperative. With the name ‘Ons Belang’, this building is a place for the organization of a cooperative that meets the needs of Europeans and Indo-Europeans in Sawahlunto. This cooperative is also a counterweight to the prices of necessities that sometimes soar in the market. It was once occupied as a dormitory and office of the Charcoal City Economic Board. Now it is the center of the PT. BA-UPO cooperative

Woning-2 (Rumah Dinas Pemda)

Dibangun 1914 sebagai rumah Dinas Dokter Perusahaan Tambang Batu bara Ombilin dengan nama W2. Bangunan ini dahulunya berfungsi sebagai rumah bagi Dokter Belanda (Eropa) yang bertugas di RS. TBO. Saat ini bangunan W2 ini digunakan sebagai rumah dinas pemerintah kota. Bangunan ini belum mengalami perubahan yang berarti, hanya penambahan pada bagian teras, ruangan paviliun bagian samping kiri dan garase mobil disamping kanan bangunan.

It was built in 1914 as the home of the Ombilin Coal Mining Company Doctor’s Office under the name W2. This building formerly served as a home for Dutch (European) doctors who served at the hospital. TBO. Currently the W2 building is used as the official residence of the city government. This building has not undergone significant changes, only the addition of the terrace, the pavilion room on the left side and the car garage on the right side of the building.

PT.BA-UPO Office

Dibangun pada tahun 1916, Gedung ini merupakan Kantor Perusahaan Penambangan Batu Bara Ombilin di Sawahlunto atau dikenal dengan Kantoor Ombilin Minjnen. Di dalam gedung inilah semua kebijakan tentang tambang batubara diputuskan. Gedung ini awalnya dimiliki oleh Perusahaan Tambang Batubara Belanda, pada Masa Jepang dikuasai oleh Hokakaido and Steamship Co.Ltd anak perusahaan Mitsui Company di Jepang. Pada masa kemerdekaan di kuasai oleh PN.TBO, kemudian Perum TBO dan akhirnya oleh PT. BA-UPO tahun 1990.

Built in 1916, this building is the Office of the Ombilin Coal Mining Company in Sawahlunto or known as Kantoor Ombilin Minjnen. It is in this building that all policies regarding coal mining are decided. This building was originally owned by the Dutch Coal Mining Company, during the Japanese period it was controlled by Hokakaido and Steamship Co. Ltd, a subsidiary of Mitsui Company in Japan. During the independence period, it was controlled by PN.TBO, then Perum TBO and finally by PT. BA-UPO 1990.

RSUD Kota Sawahlunto

Bangunan ini dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1894 dengan nama Ombilinmijnen-Hospitaal/Rumah Sakit Umum Tambang Ombilin.. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit terbesar dan paling moderen di pada masa itu bahkan pernah menjadi Rumah Sakit rujukan di Sumatera Tengah Barat. Sejak awal bangunan ini berfungsi sebagai rumah sakit sampai sekarang. setelah kemerdekaan RI Rumah Sakit Pertambangan Ombilin ini diambil alih sebagai RSUD Kota Sawahlunto.Terjadi perubahan fisik bangunan, dan itu terjadi sesuai kebutuhan sebuah rumah sakit.

This building was built by the Dutch Colonial in 1894 under the name Ombilinmijnen-Hospitaal/Ombilin Mining General Hospital. This hospital was the largest and most modern hospital at that time and was even a referral hospital in West Central Sumatra. Since the beginning this building has functioned as a hospital until now. After the independence of the Republic of Indonesia, the Ombilin Mining Hospital was taken over as the Sawahlunto City Hospital. 

Lubang Tambang Mbah Soero

Mond Mijn Soegar ini sudah ada sejak tahun awal dibaginya area penghasil batubara oleh verbeek. Lubang tambang ini digali bukan untuk diproduksi, namun untuk melihat jumlah deposit batubara di daerah soegar oleh verbeek. Keputusan Pemerintahan Belanda untuk tidak menjadikan lubang Soegar sebagai lubang tambang produksi karena sehubungan dengan keputusan pemerintah kolonial belanda untuk menjadikan daerah Soegar sebagai daerah pemukiman.Pada tahun 2007, lubang ini direvitalisasi dan tahun 2008 dibuka kembali sebagai objek wisata dengan nama Loebang Tambang Mbah Soero.

Mond Mijn Soegar has existed since the early years of the division of coal-producing areas by Verbeek. This mine pit is not dug for production, but to see the amount of coal deposit in the soegar area by verbeek. The decision of the Dutch government not to make the Soegar hole a production mining pit was due to the Dutch colonial government’s decision to make the Soegar area a residential area. In 2007, this hole was revitalized and in 2008 it was reopened as a tourist attraction under the name Loebang Tambang Mbah Soero.

Gedung Kesusteran Santa Barbara

Asrama ini dibangun ini dibangun pada tahun 1919 masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Sejak awal bangunan ini merupakan tempat tinggal biarawati dan masih digunakan untuk asrama suster sampai saat ini. Bangunan Asrama Susteran Santa Lucia berada di belakang Gereja yang dipisahkan oleh gang kecil berukuran 1,5 m atau berada di tepi jalan raya dengan pintu masuk di sisi jalan raya. Bangunan ini terlihat tidak ada perubahan yang berarti dari bentuk aslinya. Jika dibandingkan dengan foto lama tahun 1935 perubahan yang terlihat hanya pada warna cat kusen dan jendela saja.

This hostel was built in 1919 during the Dutch Colonial Government. From the beginning this building was a residence for nuns and is still used as a dormitory for sisters to this day. The Dormitory of the Sisters of Santa Lucia is behind the Church which is separated by a small alley measuring 1.5 m or is on the edge of the highway with the entrance on the side of the highway. This building looks no significant change from its original form. When compared to the old 1935 photo, the only visible changes are the paint color of the frames and windows.

Masjid Agung Nurul Islam

Bangunan Electrische Centrale atau Sentral Listrik Kubang Siarakuak berada dipinggir Sungai Lunto. PLTU pertama di Sawahlunto ini dibangun dalam rentang tahun 1904-1905 Pembangkit Listrik ini generatornya digerakkan oleh tenaga uap. Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, ditahun 1952 diatas tapak bangunan Sentral Listrik itu didirikan Sebuah mesjid sebagai sarana ibadah umat muslim Kota Sawahlunto dengan nama Mesjid Agung Nurul Islam. Sementara basementnya di tutup tanpa ditimbun dan menara cerobong asap PLTU dijadikan menara mesjid.

The Electrische Centrale building or the Kubang Siarakuak Electricity Center is located on the banks of the Lunto River. The first PLTU in Sawahlunto was built in the span of 1904-1905. This power plant is powered by steam. A few years after Indonesia’s independence, in 1952 on the site of the Central Electricity building, a mosque was established as a means of worship for the Muslims of Sawahlunto City with the name Masjid Agung Nurul Islam. Meanwhile, the basement was closed without being filled and the chimney tower of the steam power plant was turned into a mosque tower.

Rumah Dinas Walikota

Pada tahun 1917, bangunan ini sudah ada dan digunakan sebagai Rumah Asisten Residen. Sekarang dijadikan sebagai Rumah Walikota Sawahlunto. Bangunan ini terdiri dari satu banguan induk dan dua bangunan belakang. Bangunan induk dan bangunan belakang dihubungkan oleh koridor berbentuk leter T. Bangunan ini sudah banyak pengalami perubahan. Hampir setiap pergantian Walikota bangunan ini mengalami renovasi sesuai selera Walikota yang menjabat.

In 1917, this building already existed and was used as the Resident Assistant House. Now it is used as the Mayor’s House of Sawahlunto. This building consists of one main building and two rear buildings. The main building and the back building are connected by a T-shaped corridor. This building has undergone many changes. Almost every change of Mayor, this building undergoes renovation according to the taste of the Mayor in charge.

Woning-3 (Rumah Dinas Dokter)

Dibangun 1922 sebagai rumah Dinas Dokter Perusahaan Tambang Batu bara Ombilin. Hingga sekarang bangunan tersebut masih berfungsi sebagai Rumah Dinas Dokter RSUD Sawahlunto dengan nama W3. (Sumber. Buku Bangunan/Civil Work, PTBA-UPO. Bangunan ini dahulunya berfungsi sebagai rumah bagi Dokter Belanda (Eropa) yang bertugas di RS. TBO. Saat ini bangunan w3 ini dihuni oleh dokter RSUD Sawahlunto.

It was built in 1922 as the home of the Ombilin Coal Mining Company Doctor’s Office. Until now, the building still functions as a Doctor’s Office at the Sawahlunto Hospital under the name W3. (Source. Civil Work Book, PTBA-UPO. This building formerly served as a home for Dutch (European) doctors who served at TBO Hospital. Currently, the W3 building is inhabited by doctors at Sawahlunto Hospital.

Rumah Pek Sin Kek

Dibangun tahun 1916, bangunan ini adalah milik keluarga Tionghoa yang bernama Pek Sin Kek dan sekarang dikelola oleh keluarganya.. Selain sebagai rumah hunian keluarga, bangunan yang berarsitektur Indisch ini juga pernah dipergunakan sebagai Gedung Teater, tempat Perkumpulan Masyarakat Melayu dan sebagai pabrik es dan roti. Bangunan ini beraksitektur Indisch dipadu dengan ornamen pecinaan. Pada bagian depan bangunan terdapat teras dengan dua buah pilar yang dihiasi ornamen-ornamen pecinaan.

Built in 1916, this building belongs to a Chinese family named Pek Sin Kek and is now managed by his family. Apart from being a family residence, this building with Indisch architecture has also been used as a theater building, a place for the Malay Community Association and as an ice and bread factory. . This building has an Indisch architecture combined with Chinatown ornaments. At the front of the building there is a terrace with two pillars decorated with China ornaments.

Societiet (Gedung Pusat Kebudayaan)

Gedung ini dibangun Tahun 1910 dengan nama ‘Societeit Glück Auf’. Gedung Societeit merupakan gedung pertemuan atau tempat bersosialisasi,berkumpul para pejabat tambang Batu Bara Ombilin, pemerintahdari kalangan Eropah. Disini mereka berhibur dengan minum-minum, berdansa, bernyanyi dan bermain bowling. Oleh sebab itu tempat ini disebut juga ‘Rumah Bola”.Pada Masa kemerdekaan RI, bangunan ini menjadi Gedung Pertemuan Masyarakat (GPM). Pernah pula menjadi Bank Dagang Negara (BDN) atau Bank Mandiri hingga awal tahun 2006. Pada tanggal 1 Desember 2006 Gedung ini diresmikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto. Kemudian sejak tahun 2011 menjadi bagian Gedung serba guna Hotel Parai

This building was built in 1910 under the name ‘Societeit Glück Auf’. The Societeit building is a meeting place or place to socialize, gathering officials from the Ombilin Coal Mine, governments from European circles. Here they are entertained by drinking, dancing, singing and bowling. That’s why this place is also called the ‘Ball House’. During the independence of the Republic of Indonesia, this building became the Community Meeting Building (GPM). It also served as Bank Dagang Negara (BDN) or Bank Mandiri until early 2006. On December 1, 2006 this building was inaugurated as the Cultural Center Building (GPK) Sawahlunto. Then since 2011 it has become part of the Parai multi-purpose building

Stasiun KA Sawahlunto

Stasiun Kereta Api ini sudah ada sejak tahun 1900. Namun sejak Desember 2003 ketika pengangkutan batubara dari Sawahlunto ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api, maka stasiun kereta api ini tidak lagi difungsikan. Pada tanggal 17 Desember 2005, bangunan ini diresmikan sebagai Museum Kereta Api. Bangunan ini merupakan bangunan milik PT.KAI untuk mendukung pertambangan batubara di Sawahlunto. Bangunan ini dibangun tahun 1912 oleh perusahaan jawatan kereta api Belanda.

This train station has been around since 1900. However, since December 2003 when coal transportation from Sawahlunto to Padang no longer uses trains, the train station is no longer functioning. On December 17, 2005, this building was inaugurated as the Railway Museum. This building is a building owned by PT. KAI to support coal mining in Sawahlunto. This building was built in 1912 by the Dutch railway company.

Woning 137

Fungsi semula bangunan ini untuk tempat tinggal pejabat Belanda yang bekerja di Tambang batubara Ombilin. Bangunan ini masih milik dari PT.TBO yang dipakai sebagai rumah dinas karyawan PT. TBO sampai sekarang. Bangunan ini belum banyak mengalami perubahan dan masih mempertahankan keasliannya. Namun pengelola kurang melakukan perawatan sehingga terkesan tidak terawat.

The original function of this building was to house Dutch officials who worked at the Ombilin coal mine. This building is still owned by PT. TBO which is used as the official residence of PT. TBO until now. This building has not undergone many changes and still maintains its authenticity. However, the manager does not carry out maintenance so that it seems not maintained.